Jumat, 16 Desember 2011

Indahnya Hidup dengan Berbagi

Meski kini aku tak pernah naik bis lagi, tapi ternyata Tuhan masih membukakan mata hatiku untuk melihat kehidupan jalanan orang-orang tak jauh tak seberuntung diriku. Seperti seorang bapak tua yang (maaf) buta dan cucunya yang selalu kulihat di perempatan jalan. Melihat keduanya aku menjadi tersadar, betapa aku harus bersyukur, bersyukur, dan lebih bersyukur lagi atas apa yang telah kumiliki selama ini. Aku jadi ingat jika aku belum membayar janji yang pernah kuucapkan beberapa waktu lalu. InsyaAllah akan segera kubayar.

Atau bisa juga melalui foto-foto yang biasanya kulihat di fb, twitter, ata kaskus. Foto yang menyiratkan sebuah pesan untuk selalu bersyukur kepada-Nya. Seperti foto yang kudapat dari sebuah akun twitter beberapa waktu yang lalu.



Foto seorang anak yang membangunkan ibunya karena gerimis yang mulai turun. Bayangkan saja, ketika hujan deras kita bisa tidur nyenyak di rumah/kost, berselimut tebal, sambil membaca baku atau menikmati alunan lagu dari mp3, sedangkan mereka? berteduh dimana mereka saat hujan? kedinginankah mereka? punya selembar kainkah untuk sekedar menghangatkan badan?


Tuhan, hidup ini begitu indah ketika kita bisa berbagi. Buka selalu mata hatiku, sadarkan aku untuk tidak boros dalam menggunakan uang, karena di luar sana masih banyak orang-orang yang kelaparan dan harus berjuang keras untuk sesuap nasi. Mereka makan untuk hidup bukan seperti kita kebanyakan yang menganut paham hidup untuk makan
 

Betapa indahnya hidup ini ketika bisa berbagi.

2 komentar:

  1. Seperti seorang bapak tua yang (maaf) buta dan cucunya yang selalu kulihat di perempatan jalan.

    kayaknya aku tahu itu di perempatan mana. di perempatan mlati bukan?

    ~ham

    BalasHapus
  2. di perempatan dekat makam wahidin itu lo

    BalasHapus