Sabtu, 16 April 2011

"Jangan pernah takut untuk mencoba" sebuah pelajaran dari seorang wanita bernama Yam

Pagi itu selesai mencuci, ku jemur satu persatu pakaianku, ku tata rapi berbaris di atas tali tambang berwarna hijau. "eheeeheee" kudengar suara wanita dari arah utara, kutengok ia. Ternyata ia adalah Yam, wanita yang (maaf) sedikit terganggu mentalnya. Ia menunjuk-nunjuk ke arahku sambil tersenyum. Aku balas senyumannya, namun ia terus menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku terheran, ia terus menunjuk-nunjuk ke arahku kemudian kutengok ke belakang, ternyata ia menunjuk tumpukan botol bekas di belakang ku. "kamu mau botol ini? Sini aku kasih, ambil semua aja." Ia masih berdiri di tempat semula, masih menunjuk-nunjuk sambil menyeringai lebar. Ku tinggalkan ember berisi cucian, ku ambil plastik-plastik kresek besar berisi botol-botol plastik itu. "Ini bawa aja, itu masih ada banyak, dibawa sebagian dulu, nanti ke sini lagi ya."kataku.  "hehehe....." ia tersenyum senang menyambut plastik-plastik kresek itu. "Nanti ke sini lagi, ini masih banyak"kataku. Lagi-lagi ia hanya tersenyum ke arahku.


Aku kembali meneruskan pekerjaanku menjemur pakaian sambil sesekali melihat ke ujung jalan, berharap Yam segera datang mengambil botol-botol itu. Bukan sekali ini saja aku memberinya botol-botol plastik, beberapa waktu yang lalu aku juga pernah memberinya. Ia memang sering mencari barang-barang bekas seperti botol dan plastik. Aku teringat ketika dulu, beberapa tahun yang lalu saat aku pertama kali mengenalnya, aku mengenalnya sebagai pencari buah melinjo. Dalam sehari, ia 3x mengunjungi kebun depan rumahku, mengorek-orek dedauan yang mulai membusuk di bawah pohon melinjo. Pagi, siang, sore, setiap hari, tak pernah sekalipun absen.

Singkat cerita, kini ia menjadi pencari botol dan plastik bekas untuk dijualnya ke pengepul, seperti yang dulu ia lakukan ketika masih mencari melinjo. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan uang hasil penjualan melinjo dan botol plastik untuk membeli kalung emas, untuk diberikan kepada ibunya. Sungguh mulia.

Menurut orang-orang tua di desaku dulu ia adalah wanita normal, namun keadaan berubah ketika harga dirinya direnggut secara paksa oleh seorang pria, ia diperkosa di sebuah kebun kosong hingga menyebabkan jiwanya terguncang sampai saat ini. Terkadang ia melonjak-lonjak kegirangan ketika bertemu lelaki yang mengendarai motor, ia akan tersenyum, bertepuk tangan lalu berbicara seorang diri. Ia juga pernah menangis, saat itu ia sedang berjalan pulang dari mencari melinjo, seorang tetanggaku menegurnya agar ia tidak pulang melewati jalan besar karena berbahaya untuknya. Ia menangis, mungkin ia mengira orang itu melarangnya lewat jalan tersebut, sepanjang perjalanan pulang ia tersedu. Tapi itu tak membuatnya putus semangat, kaki-kaki kecilnya kembali melangkah keesokan harinya, menyusuri setiap sudut kebun dimana pohon melinjo berada.

"braak" suara botol-botol yang jatuh menyadarkan lamunanku. Aku melihat ke arah tumpukan botol-botol yang sudah kusiapkan untuk Yam. Tak ada seorang pun di sana. Aku mengalihkan pandanganku ke ujung jalan berharap Yam akan muncul dengan senyum kecilnya, namun ia tak ada di sana. Ku kemasi ember dan gantungan baju, kemudian masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama hujan turun, sengaja jemuran kubiarkan saja tergantung, toh masih basah, begitu pikirku.

Sekitar pukul 2 siang hujan mulai reda, aku keluar menuju belakang rumah, ku lihat di sana botol-botol plastik masih berada di tempatnya. Yam belum juga datang. "Ahh mungkin sebentar lagi ia akan mengambilnya" aku kembali masuk ke dalam rumah dan menyelesaikan tugasku.

Sekitar pukul 5 sore, saat aku beranjak menuju kamar mandi, ku lihat botol-botol itu masih di tempatnya. Yam belum juga datang mengambilnya. "Apa ia tak mendengar saat aku menyuruhnya kembali? Ahh tidak mungkin, dia selalu patuh dengan siapa pun, ia pasti akan kembali, mungkin esok hari ia akan mengambilnya."
Meski ia memiliki keterbatasan, meski ia tak sesempurna yang lain, ia selalu patuh, semangat, dan tidak pernah putus asa. Ia berusaha bekerja keras, semampunya, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli kalung, untuk membahagiakan orang tuanya. Ia telah menunjukkan, ia tak ingin merepotkan kedua orang tuanya, berusaha mencari uang dengan kemampuan yang dimilikinya meski hanya mencari melinjo, meski hanya mencari plastik dan botol-botol bekas. Ia telah menunjukkan pada dunia, "aku memang tidak sempurna, tapi aku ingin memberikan kesempurnaan untuk orang lain."

Satu lagi pelajaran kehidupan ku dapatkan dari seorang wanita yang luar biasa. Semangatnya telah menyadarkanku, betapa selama ini aku terlalu banyak menyia-nyiakan waktu, betapa selama ini aku terlalu takut untuk mencoba. Yam, telah mengajarkanku untuk berani mencoba, mencoba sesuatu yang mungkin ku anggap 'mustahil' untuk dilakukan. "Semampumu, sebisamu, lakukanlah, jangan pernah takut untuk mencoba karna selama takut mencoba, kamu tidak akan pernah tahu seberapa hebatnya dirimu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar