Selasa, 31 Mei 2011

Hal-hal yang berkesan di semester 4


Akhirnya berakhir juga semester 4 ini. Hari ini adalah kuliah terakhir di semester 4. Meskipun harus dibayar dengan perjuangan yang lumayan berat, lembur bikin media belajar sampai jam 2.30 pagi. Alhasil, paginya berangkat kuliah dengan mata panda hahaha tapi ternyata gak cuma aku, temen-temen yang lain juga lembur sampai pagi. Senasib seperjuangan yak….

kesibukan para Areg PIPA @sekret HIMA
 Nah, gambar di atas itu adalah saat-saat para Areg PIPA meneruskan tugas membuat media @sekret HIMA IPA. Semua orang sibuk dengan medianya masing-masing.

Berhubung hari ini adalah hari kuliah terakhir di semester 4, mau review sedikit apa aja yang uda dilakuin and didapetin selama satu semester ini. Di semester ini aku merasa lebih rajin dari semester sebelumnya. Rajin belajar dan mengerjakan tugas pastinya haha... Bukan, bukan itu kok. Aku merasa lebih rajin dalam hal bertanya aja, entah dalam diskusi presentasi atau apalah itu. Alasan utama mungkin bukan untuk mencari nilai ataupu menacri muka, aku cuma ingin membiasakan diri untuk berbicara di depan orang banyak. Aku emang mempersiapin diri untuk itu karena tahun depan udah KKN PPL, kalo gak biasa ngomong di depan orang banyak, bisa mati kutu aku ntar di depan anak-anak SMP waa bisa runyam urusannya.

Hal yang berkesan di semester ini salah satunya adalah aku diajar oleh seorang dosen yang sampai di detik ini aku kagumi. Sudah beberapa kali aku menulis tentang beliau ini, cuma belum aku posting di blog ini, beliau adalah bu Insih Wilujeng. Kepribadian beliau yang baik, pintar, ramah, cara mengajar yang menarik serta bersahabat dengan mahasiswa-mahasiswanya itulah yang membuatku mengagumi beliau. Subhanallah, hampir tidak percaya bisa diajar oleh Dosen seperti beliau.

bu Insih Wilujeng

Sabtu, 28 Mei 2011

My Inspiring Lecturer

Hari ini serangkaian kegiatan Science Competition Fair (SCF) yaitu kompetisi Guru IPa Idola dan LKTI dilaksanakan. Cerita tentang kegiatan ini sudah ku tulis di postingan sebelumnya. Di postingan ini aku akan menulis tentang Dosen Idola, bukan Guru Idola.

Dosen Idola, dosen yang aku kagumi selama menempuh pendidikan di prodi pendidikan IPA. Kebetulan, dosen idolaku semuanya menjadi juri Guru IPA Idola yaitu bu Asri Widowati dan bu Insih Wilujeng. Beliau-beliau ini juga yang membuatku semangat untuk berangkat melaksanakan kegiatan SCF hari ini.

Ku ceritakan dulu tentang bu Asri, yang sebelumnya juga pernah aku tulis percakapanku dengan beliau di postingan ini. Bu Asri, aku mengenal beliau pertama kali di mata kuliah yang beliau ampu, praktikum biologi dasar I. Kesan pertama melihat beliau saat itu: galak, menakutkan. Entah menapa dulu setiap kuliah beliau berlangsung, satu kelas menjadi kaku. 

Jumat, 27 Mei 2011

Kejaiban datang di saat tak terduga

Alhamdulillah, Subhanallah itulah kata-kata yang berkali-kali ku ucapkan hari ini. Why???

Begini ceritanya, kestressan ku tentang sertifikat, spanduk, uang dan lain-lain yang ku ceritakan dalam postingan sebelumnya, berbuah manis manis pada hari ini. Pagi hari saat berangkat kuliah, dengan kondisi badan yang kurang fit lantaran beberapa hari begadang ditambah stres mikirin masalah-masalah yang bertubi-tubi menyerangku. Di jalan saat naik motor aja aku kadang melamun, ini hal yang aku takutkan, takut kalo tiba-tiba nabrak atao jatuh.

Sesampai di kampus sekitar setengah 8 lebih, di sana temen-temen satu kelompok udah pada ngerjain LKs, jadi gak enak karena gak ikut ngerjain dan karena aku Cuma ”urun” foto ma cover LKS. Yap, LKS baru aku edit tadi pagi, itu pun Cuma nambahin foto ma bikin cover, judul dan isi Cuma beberapa persen yang aku utak-atik. Maafkan aku teman-teman (zam, duria, nita, mb ris) aku pusing dan capek, gak bisa konsen, semalem langsung tidur saking capeknya.

Setelah bikin LKS, langsung kuliah PPD, kuliah tambahan sih, ikut review sampe jam setengah 12. Abis kuliah langsung makan di soto rembang karena di ajak fina, din erly dan nita. Sebenarnya agak mikir-mikir mau makan di sana, alasannya karena lagi butuh uang dan di sana paling gak makan habis 7rebu. Tapi akhirnya ngikut juga. Satu hal yang berbeda yang aku rasakan siang itu, aku merasa mereka sangat bahagia, bercanda sepanjang jalan, tertawa-tawa bercanda. Aku tau apa penyebabnya, karena kuliah minggu ini uda berakhir, mereka sama-sama stres kaya aku, tiap malem harus begadang demi tugas-tugas yang menumpuk. Ho’o to cah????

Kamis, 26 Mei 2011

about today

Hari ini, bukan hari sial sebenarnya, hari penuh ujian dan cobaan tepatnya. Banyak masalah, banyak pikiran semuanya bergelut menjadi satu di otakku. saat berangkat kuliah biasa-biasa aja sebenarnya karena saat itu pikiran masih tertuju pada satu masalah "PR IPA 2". Yap pr ipa 2 belum selesai aku kerjakan. 

 Masalah muncul ketika datang ke hima, diminta sama ketua dan panitia lainnya untuk mempercepat pencetakan sertifikat. Alasannya karena gak ada biaya buat pengiriman sertifikat dan gak pantes kalo sertifikatnya telat karena ini tingkat DIY Jateng. Nah, ini salah siapa??? salah bersama, kenapa selama ini gak ada rapat2 buat bahas2 masalah kaya gini padahal tinggal besok sabtu acaranya. Posisi ku jadi serba salah saat ketua minta buat ndesak kalo bisa jadi hari Jumat, sementara aku uda kesepakatan kalo gak jadi hari Jumat gapapa. Akhirnya aku sms mas akhmad, tapi kayaknya malah memperumit masalah. Masalah kaya gini selalu aja terjadi di setiap kegiatan, harusnya ada koordinasi dari jauh-jauh hari. 

Apalagi saat curhat sama bu asri tadi, rasanya pengen banget nangis. sebentar, cerita dari awal kuliah ipa 2 aja. Beberapa saat setelah masuk ke dalam lab komp kacamata yang aku taruh di samping meja gak sengaja kena tangan, jatuh dan.... patahlah kacamataku satu-satunya itu. Alhasil selama kuliah ipa2, penglihatan agajk kabur-kabur, gak begitu jelas ditambah lagi pikiran lagi ruwet jadinya gak konsen. Meskipun mata melihat ke arah layar LCD tapi pikiran entah kemana, blank. sampai pada saatnya aku ditunjuk untuk membaca grafik. Aku bilang "gak keliatan bu" 
bu asri:"gak keliatan ya maju sini mbak"

Senin, 18 April 2011

Acara-acara sampah di TV yang tidak mendidik

"Apa kamu? Berani sama bos? Ambil gak?"
"Gak. Cuih sory ya"
"Aku itu bos kamu, ambil gak?"
"Trus kalo kamu bos trus seenaknya gitu nyuruh ini, nyuruh itu bla bla bla bla....."
(Jeng..jeng... jreennng.... )>>>>ditambah backsound yang di lebay-lebaykan


Acara tv saat ini tidak lain hanyalah sampah, ya isinya hanya sampah. Sampah yang dijual dengan cara membodoh-bodohi masyarakat demi rating tinggi, demi uang coy. Jujur, aku sekarang ini jarang banget liat tv, selain gak ada acara yang bermutu, aku rasa cuma buang-buang waktu aja liat tv sekarang ini.


Mari kita cek satu persatu, mulai dari REALITY SHOW. Awalnya kemunculan program reality show emang bagus, ceritanya masuk akal dan bisa buat bahan pembelajaran. Tapi kalo sekarang ini dibilang bagus, masuk akal, dan bisa buat pembelajaran, SALAH BESAR. Kenapa? Masih tanya juga, liat aja sekarang ini reality show mana yang ceritanya masuk akal? Katanya sih nyariin orang tapi harus dihubung-hubungin dengan hal-hal mistik. Ceritanya sih orangnya bejat, tapi dalam waktu beberapa hari bisa insaf karena bantuan tim relity show tersebut. Kalo emang bener sih Alhamdulillah, penghuni bangsa ini makin banyak yang kembali ke jalan yang benar. Tapi, coba di logika, setiap acara itu pasti berhasil dan kayaknya gampang banget nyadarin mereka bahkan yang sudah tergolong 'parah'. Yah, kalo gitu mah, buat benerin orang-orang, preman-preman, perampok-perampok bahkan para koruptor yang notabene adalah perambok uang negara serahin aja ama tim ini, siapa tau dalam waktu beberapa hari bisa sadar dan ngembaliin uang negara yang bermilyar-milyar itu. 

Sabtu, 16 April 2011

"Jangan pernah takut untuk mencoba" sebuah pelajaran dari seorang wanita bernama Yam

Pagi itu selesai mencuci, ku jemur satu persatu pakaianku, ku tata rapi berbaris di atas tali tambang berwarna hijau. "eheeeheee" kudengar suara wanita dari arah utara, kutengok ia. Ternyata ia adalah Yam, wanita yang (maaf) sedikit terganggu mentalnya. Ia menunjuk-nunjuk ke arahku sambil tersenyum. Aku balas senyumannya, namun ia terus menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku terheran, ia terus menunjuk-nunjuk ke arahku kemudian kutengok ke belakang, ternyata ia menunjuk tumpukan botol bekas di belakang ku. "kamu mau botol ini? Sini aku kasih, ambil semua aja." Ia masih berdiri di tempat semula, masih menunjuk-nunjuk sambil menyeringai lebar. Ku tinggalkan ember berisi cucian, ku ambil plastik-plastik kresek besar berisi botol-botol plastik itu. "Ini bawa aja, itu masih ada banyak, dibawa sebagian dulu, nanti ke sini lagi ya."kataku.  "hehehe....." ia tersenyum senang menyambut plastik-plastik kresek itu. "Nanti ke sini lagi, ini masih banyak"kataku. Lagi-lagi ia hanya tersenyum ke arahku.

Senin, 11 April 2011

Abdul Muhammad Rosid: Tanpa diktat, bisa raih IP 3,98



Tidak punya cukup uang untuk membeli buku diktat kuliah, Abdul Muhammad Rosid, 23, harus rajin meminjam buku temannya atau ke perpustakaan. Jangankan membeli buku, agar bisa kuliah saja, ia harus disumbang guru di sekolahnya.

Uang sumbangan para guru itu kemudian dibayarkan sebagai uang pangkal masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY). Sumbangan guru yang dikumpulkan pada 2007 itu pulalah yang selalu mendorongnya giat belajar.

Rosid bercerita, ia sempat mengalami dilema, melanjutkan pendidikan atau menetap di desanya dan membantu orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani, selepas lulus SMA  Negeri 1 Ngluwar. Terlebih penghasilan orang tuanya saat itu tidak lebih dari Rp400.000 sebulan, jumlah yang jauh dari cukup untuk membuat seorang anak menempuh pendidikan.

Namun, salah satu guru di sekolahnya 'eman' bila anak didiknya tidak meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Alasannya, Rosid terbilang berotak encer dengan prestasi juara I di sekolah dan memperoleh nilai 10 dalam Ujian Akhir Nasional untuk mata pelajaran matematika.

“Sangat jarang orang di desa saya yang meneruskan pendidikan SMA terlebih kuliah karena memang sebagian besar mengalami kesulitan ekonomi,” ujar Rosid, sapaan akrabnya kepada Harian Jogja, Kamis (31/3).

Ia menceritakan kisah empat tahun lalu, pengalamannya cukup berliku untuk menyandang status mahasiswa. Bahkan, tidak pernah terbersit dalam benaknya sewaktu di bangku SMA untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.
Guru Bimbingan Konselinglah yang mendorong Rosid mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan mendapatkan beasiswa masuk universitas. Kendala lain muncul setelah diterima, sebab beasiswa tidak sepenuhnya dapat menutupi uang masuk kuliah.