Jumat, 16 Desember 2011

Indahnya Hidup dengan Berbagi

Meski kini aku tak pernah naik bis lagi, tapi ternyata Tuhan masih membukakan mata hatiku untuk melihat kehidupan jalanan orang-orang tak jauh tak seberuntung diriku. Seperti seorang bapak tua yang (maaf) buta dan cucunya yang selalu kulihat di perempatan jalan. Melihat keduanya aku menjadi tersadar, betapa aku harus bersyukur, bersyukur, dan lebih bersyukur lagi atas apa yang telah kumiliki selama ini. Aku jadi ingat jika aku belum membayar janji yang pernah kuucapkan beberapa waktu lalu. InsyaAllah akan segera kubayar.

Atau bisa juga melalui foto-foto yang biasanya kulihat di fb, twitter, ata kaskus. Foto yang menyiratkan sebuah pesan untuk selalu bersyukur kepada-Nya. Seperti foto yang kudapat dari sebuah akun twitter beberapa waktu yang lalu.

Minggu, 20 November 2011

Bapak Tua Penjual Amplop Itu

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.
Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.
Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.
Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Minggu, 30 Oktober 2011

Sumpah Pemuda Bukan Sampah Pemuda

Article and Blog Competition HIMA ADP UNY 2011

”Berilah aku seratus orang tua. Dengan seratus orang tua ini aku akan memindahkan Gunung Semeru. Tetapi, beri aku sepuluh pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncangkan dunia”
            Inilah kata-kata yang diucapkan oleh Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia kita. Tidak hanya di mata Soekarno, masyarakat pun memandang pemuda memiliki ‘nilai lebih’ dari yang lainnya. Apa penyebabnya? Mari kita tilik bersama-sama, apa saja yang pernah dilakukan pemuda hingga ia  begitu ‘dipuja’ di mata Soekarno dan rakyatnya.
            Masih ingatkah kita dengan perjuangan para pemuda atau disebut golongan muda di masa lalu ketika mendesak hingga akhirnya nekat menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Aksi ini berbuah manis dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Soekarno membacakan teks proklamasi
Pada tahun 1966,  para pemuda bersatu menggabungkan diri dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) menuntut Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah yang akhirnya ‘menggulingkan’ Soekarno dari kursi kekuasaannya dan berpindah di tangan Soeharto. 
Tahun 1998, mahasiswa dari seantero negeri turun ke jalan untuk menuntut adanya reformasi. Aksi ini memuncak pada aksi pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Soeharto akhirnya mundur dan digantikan oleh wakilnya saat itu, yaitu B.J. Habibie. 

Aksi mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR
3 contoh aksi mahasiswa di atas menjadi sebuah bukti mengapa pemuda dipandang ‘lebih’ oleh Soekarno dan rakyat. Pemuda seringkali disebut ‘agent of change’ atau agen perubahan yang dapat memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsanya. Ketiga contoh aksi di atas menggambarkan potret pemuda di masa lalu. Bagaimana dengan pemuda di masa kini???
            Tidak jauh berbeda dengan pemuda di masa lalu, pemuda masa kini juga sering melakukan aksi, namun tidak jarang aksi tersebut dibarengi anarkisme. Pemuda saat ini lebih suka mengkritik pemerintah, berkoar-koar sambil turun ke jalan, hanya berani ‘ngomong’ tanpa ada tindakan positif untuk merubahnya. Ini yang membuat rakyat tidak lagi member nilai lebih kepada mereka. Pemuda yang katanya orang berpendidikan namun perilakunya tidak mencerminkan orang berpendidikan.
Lalu seberapa banyak pemuda yang tidak turun ke jalan atau memilih diam saja mengacuhkan nasib bangsanya yang berada di ujung tanduk? Tak ingatkah mereka dengan perjuangan para pemuda dahulu? Tak ingatkah mereka dengan SUMPAH PEMUDA yang menjadi titik awal sebuah kebangkitan pemuda di negeri ini?
Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Lihat diri kita, seberapa besar kontribusi yang sudah kita berikan untuk bangsa ini. Seberapa dalam makna SUMPAH PEMUDA itu mendarah daging dalam diri kita. Seberapa besar pengabdian kita kepada negeri ini. Jangan biarkan diri kita menjadi SAMPAH PEMUDA. Tak tahu apa yang harus dilakukan untuk negeri ini. Tidak malukah kita dengan pendahulu-pendahulu kita?
Tidak harus dengan aksi turun ke jalan, tidak harus dengan aksi menduduki gedung DPR/MPR, tidak harus bertindak anarkis, bukan jamannya lagi seperti itu. Banyak yang bisa kita lakukan, tanpa modal, tanpa uang. Misalnya saja, sebagai mahasiswa UNY yang mayoritas adalah para calon guru, mengapa kita tidak memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak kurang mampu, tidak turun membantu mencerdaskan generasi-generasi negeri ini. Tidakkah jiwa kita terpanggil melihat kondisi pendidikan di negeri ini?
Maka dari itu, marilah kita berikan sesuatu untuk Indonesia ini. Dimulai dari hal kecil, dimulai dari diri sendiri, dan mulailah sekarang juga. Bukan jamannya lagi SUMPAH PEMUDA hanya kita baca saat mata kuliah kewarganegaraan dan pancasila. Inilah saatnya kita menjadikan SUMPAH PEMUDA sebagai lecutan semangat untuk membangun Indonesia lebih baik lagi.


Pengorbanan Luar Biasa Seorang Bapak Tua


Hari itu, selepas magrib aku berencana pergi ke angkringan Satari yang terkenal enak dan ramai pengunjung di ujung jalan Magelang untuk membeli nasi kucing. Rintik hujan di luar tidak membuatku gentar, aku nekat menerobos hujan tanpa mantel, tanpa payung. Tak peduli jika badanku basah oleh air hujan, toh belum mandi juga, pikirku. 
Kepadatan lalu lintas di jalan raya Jogja Magelang selepas magrib dan air hujan yang turun malam itu, membuat jalanan terlihat samar-samar, ditambah pula mataku yang memang sudah minus. Aku berhenti di depan toko oleh-oleh khas Jogja, menunggu jalanan sepi untuk menyeberang jalan. Samar kulihat dari kejauhan,  seorang wanita berpakaian putih menggenakan payung merah berjalan mendekat ke arahku. Ternyata bu Dar tetanggaku pemilik rumah gedong di samping toko oleh-oleh khas Jogja, beliau baru saja pulang dari masjid. Kami hanya bertatapan kemudian tersenyum, bu Dar pun melanjutkan perjalanannya.

Senin, 29 Agustus 2011

Baik Disini

Bunda senyumanmu perteguh mimpi-mimpiku
Ayah suaramu pertegas perjuanganku
Anakmu bertarung menaklukkan waktu
Mengejar cita-citaku

Jangan menangis bunda tercinta
Anakmu baik di sini
Tak perlu khawatir ayahku sayang
Doakan aku di sini

Minggu, 31 Juli 2011

‘Masa Kecilku’sebuah otobiografi Sudharmono, SH


Buku ini ditulis oleh Bapak Sudharmono, S.H. setelah beliau selesai menjalankan tugasnya sebagai Wakil Presiden Indonesia. Beliau menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia periode 11 Maret 1988-11 Maret 1993 menggantikan Umar Wirahadikusuma. Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara ke-3 pada periode 28 Maret 1973-21 Maret 1988.


Kamis, 14 Juli 2011

cerita CINTA anak HIMA

Teringat obrolan teman-teman Jurnalistik sore tadi ketika rapat di Foodcourt UNY  tentang CINTA. Iya biarkan aku menjadi alay malam ini, ngomongin tentang C.I.N.T.A seperti apa kata Bagindas.

Cerita berawal ketika Siti, Laskar Jurnalistik junior menceritakan tentang seseorang yang dia kagumi selama ini, sebut saja A. Namun, malang nasib si Siti Karena si A ternyata menyukai seseorang yang sepertinya (tebakan ku) teman sekelas Siti, berpostur tinggi dan putih. Dia juga bercerita betapa remuk redam hatinya ketika menemui mereka berjalan berdua di suatu malam. Terlebih lagi si A sepertinya memberi harapan kepada Siti (menurut Siti lo…). Aku gak tau apa itu harapan atau Sitinya yang ke-GR-an. Ya begitulah wanita, terlalu tinggi menerjemahkan kode-kode dari lelaki.