Senin, 07 Desember 2020

Pesona Ecoprint dan Shibori di Festival UMKM Sembada 3

Festival UMKM Sembada 3 merupakan pameran produk-produk UMKM Kabupaten Sleman yang dilaksanakan pada tanggal 3-6 Desember 2020. Kegiatan yang dilaksanakan di Jogja City Mall (JCM) tersebut diselenggerakan oleh Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (DINKOP UKM) Kabupaten Sleman. Ada 143 peserta dalam pameran ini yang berasal dari UMKM di Kabupaten Sleman, baik dari sector kuliner, fashion, kerajinan, dan flora.

Ketika sampai di lokasi, Anda akan disuguhkan pemandangan stand-stand pameran yang ditata secara apik dan artistik. Pada bagian paling depan ada sebuah panggung utama yang digunakan untuk perlombaan, live music, talkshow, lomba mewarnai, tari tradisional, menyanyi hingga fashion show.


Salah satu UMKM yang terlibat dalam pameran ini adalah Mukti Collection, milik seorang perempuan wirausaha yang tangguh dan kreatif. Dialah Sih Sujati yang menempati stand pameran nomor 15. Ia hadir dengan membawa hasil kreativitasnya berupa kerajinan shibori dan ecoprint.


Berawal dari pedagang pasar

Bu Sih, begitu ia akrab dipanggil, dahulu adalah seorang pedagang kalung, aksesoris, dompet dan pernak-pernik lainnya di sebuah pasar tradisional di Kabupaten Sleman. Berbekal ajakan seorang teman, Bu Sih mulai mengenal dan ikut menjadi mitra binaan Rumah Kreatif Sleman (RKS). RKS adalah sebuah wadah untuk memberikan bimbingan bagi para pelaku usaha kecil menengah di Kabupaten Sleman. Sejak saat itu bu Sih pun aktif dalam kegiatan di RKS, Dinkop UKM Sleman, PLUT, serta komunitas-komunitas lain.

Ia pun mulai mengembangkan kreativitasnya mulai dari membuat tas dan aksesoris dari barang bekas dan daur ulang sampah, membuat bunga dari plastik bekas, membuat lilin dan sabun dari minyak jelantah. Beberapa kali, Ia sebagai narasumber untuk memberikan pelatihan dalam memanfaatkan barang-barang tidak terpakai tersebut menjadi layak guna. Sejak saat itu, Bu Sih memilih fokus mengembangkan kretivitasnya dan berhenti berdagang di pasar. Hasil karyanya mulai memiliki banyak peminat. Pemasarannya dilakukan secara online maupun melalui pameran-pameran.


Mulai Mengenal Shibori

Dengan berkembangnya Mukti Collection, memacunya untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya di bidang yang lain. Ia pun mulai melirik shibori. Berawal dari ketertarikannnya melihat seorang teman mempelajari shibori, Bu Sih kemudian menngikuti pelatihan pembuatan shibori. Dan bertemulah ia dengan Komunitas Gema Wira, dari komunitas tersebut, bu Sih belajar tentang Shibori. Hanya dengan mengikuti 2x pelatihan saja, ia pun telah menguasai beberapa teknik pembuatan shibori.

“Shibori ini adalah sebuah kerajinan yang mengkolaborasikan keterampilan seni lipat, ikat, dan celup” paparnya. Dalam pembuatan shibori sendiri ada beberapa teknik yang bisa digunakan, diantaranya yaitu itajime, kuma, nuishibori, arashi, tie die, dan lain lain. 

Setelah shibori, ia kemudian mempelajari tentang ecoprint, dimana dalam pembuatannya memanfaatkan bahan-bahan alam yakni daun sebagai pewarnanya. Ternyata, tidak sembarang daun dapat digunakan dalam pembuatan ecoprint ini. Bu Sih sendiri pernah menggunakan beberapa daun seperti daun jati, daun jarak kepyar, daun tabepuya, daun kenikir, dan daun jarak pulung dalam pembuatan ecoprint.


Peminat Shibori dan Ecoprint

Saat ini shibori dan ecoprint sedang hits di kalangan masyarakat. Banyak dijumpai berbagai jenis baju, mukena, tas, jilbab, dan masker yang dibuat dengan kain shibori dan ecoprint.

“Jika dibandingkan shibori dan ecoprint, jelas berbeda, dari teknik pembuatan, bahan yang digunakan, serta harga jual,” ungkap Sih Sujati.

Ternyata harga ecoprint lebih mahal daripada shibori. Salah satu alasan yang mendasarinya adalah cara pembuatannya yang lebih rumit, menggunakan bahan alami, dan membutuhkan waktu pembuatan lebih lama. Maka tak heran jika harga selembar kain ecoprint berukuran 2 meter dibandrol dari harga Rp 250.000,00 hingga Rp 400.000,00. Sedangkan harga kain shibori berkisar Rp 125.000,00 untuk selembar kain berukuran 2 meter.


Alasan yang mendasari Bu Sih untuk ikut serta dalam Festival UMKM Sembada 3 ini salah satunya untuk memperkenalkan pesona kain shibori dan ecoprint ke masyarakat luas. Selain itu diharapkan dapat membawa nama Mukti Collection semakin berkembang dan dikenal banyak kalangan. 


#dinkopukmsleman

#FestivalUMKMSembada3

 

Jumat, 05 Juli 2013

Bapak Tua




Di suatu sore yang cerah, aku, Hasan dan Rani pergi ke mirota kampus untuk membeli kado. Yah, seorang sahabat kami, Anita Rohmah atau biasa dipanggil ‘Mak e’ akan berulang beberapa hari lagi. Di pintu masuk utama Mirota Kampus, sekilas ku lihat satpam berbicara dengan seseorang. Kuacuhkan saja, kupikir itu adalah hal biasa, aku pun kemudian mengajak Hasan dan Rani naik eskalator. Namun, karena nada bicara satpam yang keras memaksaku untuk menengok ke belakang, melihat apa yang terjadi. Sebuah pemandangan yang membuatku tercengang, seorang bapak tua yang penglihatannya tidak normal, membawa tongkat lipat di tangan kirinya, dan kumpulan kemoceng yang diikatkan di tas bututnya. Pemandangan yang membuat iba siapa saja yang melihatnya. Di sini hatiku mulai gusar dengan pemandangan yang ada di depan mataku sore itu.

Seduhan Teh Terakhir untuk Sang Guru Kehidupan

Ku ambil sebuah gelas besar berwarna bening. Ku masukkan gula pasir ke dalam gelas, sedikit saja, saperti apa yang dipesankannya selalu. Kumasukkan the tjatoet dan ku tuang air panas. Sendok kualun perlahan di dalam gelas. Suasana hatiku tergambar di sana, sebuah kepiluan, aku tak ingin perpisahan itu terjadi.
***
15 tahun yang lalu….
            “Mbah, aku mau minum jeruk.”
“Ayo, mbah buatin”
            Langkah kaki kecilku mengikuti sosok lelaki yang ku panggil dengan sebutan Mbah Abub. Namanya Mahbub, tetapi aku memanggilnya Mbah Abub.
            “Mbah, ini cara mengupas jeruknya bagaimana?” tanyaku.
            “Kamu jangan pegang pisau, biar Mbah saja yang mengirisnya. Kamu duduk saja di kursi ya” katanya lembut.
            Lelaki ini begitu dekat denganku sedari kecil. Dia adalah ayah dari ayahku. Kelembutannya kurasakan sejak dulu, sejak aku kecil. Aku adalah cucu kesayangannya karena aku adalah cucu wanita satu-satunya. Mbah Abub tinggal di Purwokerto bersama anak ketiganya. Setiap kali datang ke Jogja, beliau tak pernah melupakan satu hal yang selalu dilakukannya, mengukur tinggi tubuhku di tembok. Mbah Abub akan menandainya dengan pensil. Goresan-goresan tanda pensil itu menjadi bukti seberapa besar cinta beliau kepadaku.

Sabtu, 27 Oktober 2012

AKU DAN MIMPIKU (Mimpi anak muridku kelas VII A & B)



Awalnya aku merasa jenuh menjalani kegiatan KKN-PPL. Harus berangkat jam 6 pagi setiap hari, ngebut-ngebut di jalan biar sampai sekolah sebelum bel berbunyi, pulang magrib sampai rumah, berkutat dengan tugas tugas KKN-PPL, tidur larut malam, berangkat pagi lagi. Rutinitas yang menjemukan, saat itu. Tapi kini, setelah selesai KKN-PPL rasanya rindu, rindu pada dinginnya pagi saat berangkat menuju sekolah, rindu bertemu anak-anak yang mengendarai sepeda berjejer di sepanjang jalan saat berangkat sekolah dengan panorama sawah di kanan kirinya dan Gunung Merapi di sebelah utara, rindu bertemu teman-teman satu tim, rindu dipanggil bu guru, rindu dicium tangan oleh murid-muridku, rindu mengajar di kelas.

Jumat, 30 Maret 2012

Impian itu terwujud berkat SioLang (siomay Belalang)

Sekitar setahun yang lalu aku membaca berita PKM kakak angkatan muncul di surat kabar. "Ahh pasti bangga sekali bisa dimuat di surat kabar dengan prestasinya itu" batinku. Sambil bergumam, aku pun membayangkan jika suatu saat berita itu memuat tentang diriku dan PKM ku.

Impian yang terkubur kurang lebih 1 tahun lamanya itu kini telah terwujud :D
Berita Siolang muncul di berbagai surat kabar, baik cetak maupun online.

Bersama dengan teman-teman satu tim dan PKM SioLang (Siomay belalang)





Selasa, 13 Maret 2012

Kaliurang dan Sejuta Kenangan

Tanggal 18 Februari yang lalu, HIMA IPA ngadain kegiatan Up Grading Pengurus HIMA IPA 2012 di Kaliurang. Sebagai sesepuh, para pengurus angkatan tahun 2009 bertugas sebagai panitia.

Sedikit banyak mau share foto-foto dan cerita selama di sana nih.

Jadwalnya keberangkatan panitia jam 07.00, tapi berhubung ada kumpul dengan temen-temen KKN, aku dikasih ijin buat naik ke atas siang harinya sekalian jemput mbak Anisa yang bakalan jadi motivator di acara tersebut.

Aku dan mbak Anisa sampai di lokasi sekitar jam 3 lebih.  Kesan pertama yang diperlihatkan wisma tempat menginap ini kesan menyeramkan. Bangunan yang besar, tua dan horor lah.

Sampai di lantai 3  ternyata, acara sedang diisi oleh mas Iskandar. Sesi berikutnya baru mbak Anisa yang mengisi.

Hawa dingin terasa kala menginjakkan kaki di lantai dan mencuci tangan di kamar mandi. Brrrr.

Jumat, 02 Maret 2012

Beranjak Dewasa

Gak terasa udah semester 6, gak terasa udah pake 'seragam kebesaran' mikro teaching, gak terasa udah semakin tua huaaa.....


Jumat, 13 Januari 2012

airmata di tengah sidang

Hari ini menjadi hari berangkat jam 8.15 dari rumah menuju Melia buat ngambil konsumsi sidang Siti. Bukan UNY tujuannya, tapi Poltekes Yogya. Perjalanan yang singkat berakhir sudah. Tapi, pas nyampai di Poltekes, ternyata siti lagi ikut sidang temennya dan gak bisa keluar. Alhasil nungguin seorang diri kaya anak ilang di parkiran, selama setengah jam lebih, aduwh.

Finally, tiba juga saatnya Siti untuk di sidang (baca: dibantai) oleh para dosen. Awalnya takut juga menyusup di ruang sidang itu, secara anak-anak yang lain dikenali sama dosen, sementara aku, terdampar di pojokkan,, asing sekali. Pas presentasi, kaya presentasi biasa di depan kelas, gak ada yang beda dengan kuliah di UNY. Hingga akhirnya tibalah sesi tanya jawab, dan  pertanyaan pertama yang diajukan berasal dari audiens (teman) yang hadir.

Sabtu, 31 Desember 2011

2011

Tak terasa, hari ini adalah hari terakhir di 2011. Sedikit review perjalanan hidup selama 1 tahun ini. Langsung aja deh, cekicrot:

#Masuk HIMA
Keinginan untuk masuk HIMA akhirnya terwujud di tahun 2011 ini. Dengan menyandang status sebagai staff jurnalistik, aku banyak belajar di sini. Belajar berorganisasi, belajar bagaimana bekerjasama, saling membantu. Gara-gara di jurnalistik juga, akhirnya aku berkutat kembali dengan corel draw, sedikit demi sedikit belajar desain otodidak. Sejak diterima di HIMA jadi getol banget ke HIMA, sampai akhirnya pada UG2 dianugerahi sebagai "PENJAGA HIMA TERFAVORIT", aneh memang. 
Suka duka selama berada di HIMA banyak sekali, dari yang disuruh bikinin sertifikat, pamflet, banner, dll sampai dukanya yang sering dimarahi karena deadline tak segera terselesaikan hhe.

Senin, 26 Desember 2011

Kebersamaan itu...

saatnya kami pensium
 
 Kebersamaan selama 1 tahun kepengurusan ini, memberikan sejuta pelajaran yang luar biasa untukku. Memberiku kesempatan untuk berkarya, berbagi, bersenang-senang dengan kalian, tertawa lepas di kala deadline, rapat bareng, makan bareng, lembur bareng bikin buletin, tabloid, mading, pelatihan blog. 

Laskar Biru, nama yang awalnya tercetus karena beberapa personil jurnalistik menyukai warna biru. Kemudian dengan sedikit memaksa diplesetkan menjadi jargon "B....(lali) Inspiratif Ra jelas Untuk semua"

Bersamamu ku habiskan waktu senang bisa mengenal dirimu. 
Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya

Sabtu, 24 Desember 2011

Berhenti di Kamu

Tiap aku mendengar suara kamu
Rasanya mau bilang iya
Maafkan kamu, terima kamu kembali

Aku tahu kamu sangat menyesal
Akupun juga tak sempurna
Cerita kita tiada yang bisa gantikan


Namun ada satu yang terjadi
Hatiku cinta kamu
Tak bisa mau kembali lagi, ulang semua
Aku tak mau lukai kamu

Kamis, 22 Desember 2011

Untukmu Ibu

Seperti biasanya, dari tahun ke tahun, dan ini tahun yang ke-7. Tak ada perayaan, tak ada ucapan, tak ada bunga, yang ada hanyalah doa. Tak ada upacara kecil di depan pusaramu, tak ada ciuman untuk nisanmu hari ini.

Ibu, 7 tahun kepergianmu, membuatku lebih dewasa kini. Aku tak lagi bermanja-manja seperti dulu, aku bukan lagi gadis yang cengeng, aku tidak lagi penakut. Telah kulalui setiap detik kehidupan ini tanpamu, namun lihatlah aku masih berdiri sampai hari ini. Aku masih berjuang menggapai semua mimpi. Meski tak ada lagi dirimu di sini, tapi ku yakin, di Atas Sana, kau masih melihatku dan menjagaku.

Rabu, 21 Desember 2011

Aku tahu rasanya kehilangan

Senin, 19 Desember 2011 sekitar jam 5 pagi aku terbangun dan mendapati sebuah sms masuk di hp. Tertulis "sit", dari siti rupanya. Dengan setengah sadar ku buka sms itu,"ayah g ada." 
"Ngaco sekali anak ini, sms tidak jelas sepagi ini." batinku. Kesadaranku belum pulih benar akibat semalam begadang belajar dan tidur yang tak nyenyak memikirkan tugas-tugas. 
Ku balas sekedarnya "ayah sp?"
Satu lagi sms masuk, kali ini dari Adib,"inalillahi wa inaillaihi rojiun. Telah meninggal dunia ayah cyti". 
"hah", kaget dan tercengang, tak tahu apa yang harus ku lakukan. 
Sebuah sms balasan dari siti masuk "ku"
Ku balas dengan polosnya, "inalillahi, beneran?? kapan?"
"td"

Berita yang sangat mengejutkan di pagi itu, pasalnya baru seminggu yang lalu aku datang ke rumah Siti untuk menengok ayah dan ibunya yang baru pulang haji. Di hari minggu yang cerah itu, beliau menyambut kedatanganku dan Dewi dengan hangat. dengan baju koko putihnya, beliau bercerita tentang pengalamannya selama menunaikan ibadah haji. Beliau juga menasihati kami, "Saya hanya manusia, tempat meminta itu Gusti Allah, saya hanya perantaranya, saya hanya bisa mendoakan mbak. Belajar yang benar, usaha dan doa jangan pernah putus, dan satu lagi jangan pacaran. Anak saya yang besar tidak pacaran, alhamdulillah lulus dengan nilai yang baik, IPnya 3,6. Pacaran itu hanya membawa dosa, lebih baik fokus pada kuliah dan masa depan. Kunci sukses di masa depan itu adalah ilmu, jika ilmu sudah di tangan, insyaAllah semuanya akan mudah untuk dijalani. Dan juga, kalo besok sudah menikah, jangan lupa rencanakan untuk naik haji."
Tak pernah kusangka, itu adalah nasihat dan pertemuan terakhirku dengannya. 
***

Minggu, 18 Desember 2011

Someone Like You

I heard
That you're settled down
That you found a girl
And you're married now

I heard
That your dreams came true
Guess she gave you things
I didn't give to you

Old friend
Why are you so shy?
Ain't like you to hold back
Or hide from the light

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldb't stay away, I couldn't fight it
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over

Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead
Yeah

Jumat, 16 Desember 2011

Indahnya Hidup dengan Berbagi

Meski kini aku tak pernah naik bis lagi, tapi ternyata Tuhan masih membukakan mata hatiku untuk melihat kehidupan jalanan orang-orang tak jauh tak seberuntung diriku. Seperti seorang bapak tua yang (maaf) buta dan cucunya yang selalu kulihat di perempatan jalan. Melihat keduanya aku menjadi tersadar, betapa aku harus bersyukur, bersyukur, dan lebih bersyukur lagi atas apa yang telah kumiliki selama ini. Aku jadi ingat jika aku belum membayar janji yang pernah kuucapkan beberapa waktu lalu. InsyaAllah akan segera kubayar.

Atau bisa juga melalui foto-foto yang biasanya kulihat di fb, twitter, ata kaskus. Foto yang menyiratkan sebuah pesan untuk selalu bersyukur kepada-Nya. Seperti foto yang kudapat dari sebuah akun twitter beberapa waktu yang lalu.

Minggu, 20 November 2011

Bapak Tua Penjual Amplop Itu

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.
Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.
Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.
Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Minggu, 30 Oktober 2011

Sumpah Pemuda Bukan Sampah Pemuda

Article and Blog Competition HIMA ADP UNY 2011

”Berilah aku seratus orang tua. Dengan seratus orang tua ini aku akan memindahkan Gunung Semeru. Tetapi, beri aku sepuluh pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncangkan dunia”
            Inilah kata-kata yang diucapkan oleh Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia kita. Tidak hanya di mata Soekarno, masyarakat pun memandang pemuda memiliki ‘nilai lebih’ dari yang lainnya. Apa penyebabnya? Mari kita tilik bersama-sama, apa saja yang pernah dilakukan pemuda hingga ia  begitu ‘dipuja’ di mata Soekarno dan rakyatnya.
            Masih ingatkah kita dengan perjuangan para pemuda atau disebut golongan muda di masa lalu ketika mendesak hingga akhirnya nekat menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Aksi ini berbuah manis dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Soekarno membacakan teks proklamasi
Pada tahun 1966,  para pemuda bersatu menggabungkan diri dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) menuntut Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah yang akhirnya ‘menggulingkan’ Soekarno dari kursi kekuasaannya dan berpindah di tangan Soeharto. 
Tahun 1998, mahasiswa dari seantero negeri turun ke jalan untuk menuntut adanya reformasi. Aksi ini memuncak pada aksi pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Soeharto akhirnya mundur dan digantikan oleh wakilnya saat itu, yaitu B.J. Habibie. 

Aksi mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR
3 contoh aksi mahasiswa di atas menjadi sebuah bukti mengapa pemuda dipandang ‘lebih’ oleh Soekarno dan rakyat. Pemuda seringkali disebut ‘agent of change’ atau agen perubahan yang dapat memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsanya. Ketiga contoh aksi di atas menggambarkan potret pemuda di masa lalu. Bagaimana dengan pemuda di masa kini???
            Tidak jauh berbeda dengan pemuda di masa lalu, pemuda masa kini juga sering melakukan aksi, namun tidak jarang aksi tersebut dibarengi anarkisme. Pemuda saat ini lebih suka mengkritik pemerintah, berkoar-koar sambil turun ke jalan, hanya berani ‘ngomong’ tanpa ada tindakan positif untuk merubahnya. Ini yang membuat rakyat tidak lagi member nilai lebih kepada mereka. Pemuda yang katanya orang berpendidikan namun perilakunya tidak mencerminkan orang berpendidikan.
Lalu seberapa banyak pemuda yang tidak turun ke jalan atau memilih diam saja mengacuhkan nasib bangsanya yang berada di ujung tanduk? Tak ingatkah mereka dengan perjuangan para pemuda dahulu? Tak ingatkah mereka dengan SUMPAH PEMUDA yang menjadi titik awal sebuah kebangkitan pemuda di negeri ini?
Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Lihat diri kita, seberapa besar kontribusi yang sudah kita berikan untuk bangsa ini. Seberapa dalam makna SUMPAH PEMUDA itu mendarah daging dalam diri kita. Seberapa besar pengabdian kita kepada negeri ini. Jangan biarkan diri kita menjadi SAMPAH PEMUDA. Tak tahu apa yang harus dilakukan untuk negeri ini. Tidak malukah kita dengan pendahulu-pendahulu kita?
Tidak harus dengan aksi turun ke jalan, tidak harus dengan aksi menduduki gedung DPR/MPR, tidak harus bertindak anarkis, bukan jamannya lagi seperti itu. Banyak yang bisa kita lakukan, tanpa modal, tanpa uang. Misalnya saja, sebagai mahasiswa UNY yang mayoritas adalah para calon guru, mengapa kita tidak memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak kurang mampu, tidak turun membantu mencerdaskan generasi-generasi negeri ini. Tidakkah jiwa kita terpanggil melihat kondisi pendidikan di negeri ini?
Maka dari itu, marilah kita berikan sesuatu untuk Indonesia ini. Dimulai dari hal kecil, dimulai dari diri sendiri, dan mulailah sekarang juga. Bukan jamannya lagi SUMPAH PEMUDA hanya kita baca saat mata kuliah kewarganegaraan dan pancasila. Inilah saatnya kita menjadikan SUMPAH PEMUDA sebagai lecutan semangat untuk membangun Indonesia lebih baik lagi.


Pengorbanan Luar Biasa Seorang Bapak Tua


Hari itu, selepas magrib aku berencana pergi ke angkringan Satari yang terkenal enak dan ramai pengunjung di ujung jalan Magelang untuk membeli nasi kucing. Rintik hujan di luar tidak membuatku gentar, aku nekat menerobos hujan tanpa mantel, tanpa payung. Tak peduli jika badanku basah oleh air hujan, toh belum mandi juga, pikirku. 
Kepadatan lalu lintas di jalan raya Jogja Magelang selepas magrib dan air hujan yang turun malam itu, membuat jalanan terlihat samar-samar, ditambah pula mataku yang memang sudah minus. Aku berhenti di depan toko oleh-oleh khas Jogja, menunggu jalanan sepi untuk menyeberang jalan. Samar kulihat dari kejauhan,  seorang wanita berpakaian putih menggenakan payung merah berjalan mendekat ke arahku. Ternyata bu Dar tetanggaku pemilik rumah gedong di samping toko oleh-oleh khas Jogja, beliau baru saja pulang dari masjid. Kami hanya bertatapan kemudian tersenyum, bu Dar pun melanjutkan perjalanannya.

Senin, 29 Agustus 2011

Baik Disini

Bunda senyumanmu perteguh mimpi-mimpiku
Ayah suaramu pertegas perjuanganku
Anakmu bertarung menaklukkan waktu
Mengejar cita-citaku

Jangan menangis bunda tercinta
Anakmu baik di sini
Tak perlu khawatir ayahku sayang
Doakan aku di sini